SENDAWAR, Infokubar.id — Di hadapan 21 lembar desain batik yang tersusun untuk dinilai, Maria Christina Frederick Edwin melihat lebih dari sekadar rangkaian motif dan warna. Baginya, karya-karya itu adalah ikhtiar menemukan satu simbol yang mampu merangkum wajah Kutai Barat dalam sehelai kain.
Pagi itu, Kamis, 18 Juni 2026, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kutai Barat memimpin proses penjurian Lomba Desain Batik Khas Kutai Barat di Ruang Rapat I Dinas Pariwisata. Sebanyak 21 desain dari berbagai kalangan masyarakat memasuki tahap penilaian setelah melalui masa pendaftaran yang dibuka sejak Maret lalu.
Di tengah keberagaman motif yang selama ini berkembang di Kutai Barat, Maria memandang perlunya sebuah identitas visual yang dapat dikenali masyarakat luas. Menurut dia, daerah ini memiliki kekayaan budaya yang tercermin dalam banyak motif batik, namun belum memiliki satu desain yang secara kuat melekat sebagai representasi Kutai Barat.

“Selama ini kita memiliki banyak motif batik dengan berbagai nama. Itu merupakan kekayaan budaya yang luar biasa. Melalui lomba ini, kami berharap lahir satu desain yang benar-benar mewakili Kutai Barat dan mudah dikenali masyarakat,” kata Maria.
Keinginan itu bukan sekadar soal menciptakan motif baru. Bagi Maria, batik memiliki fungsi yang lebih besar sebagai medium yang merekam sejarah, budaya, dan identitas sebuah daerah. Karena itu, motif yang terpilih nantinya diharapkan tidak berhenti sebagai karya lomba, melainkan digunakan secara konsisten dalam berbagai kegiatan resmi dan promosi daerah.
Ia membayangkan suatu saat masyarakat dapat langsung mengenali Kutai Barat hanya dari corak batik yang dikenakan. Sebagaimana sejumlah daerah di Indonesia memiliki motif khas yang menjadi identitas budaya mereka, Kutai Barat juga ingin memiliki simbol serupa.
Pencarian identitas melalui batik tersebut berlangsung di tengah keberagaman budaya yang menjadi karakter utama Kutai Barat. Daerah ini dihuni enam etnis yang hidup berdampingan dan membentuk mozaik budaya yang kaya. Tantangan terbesar lomba ini adalah bagaimana seluruh kekayaan itu dapat diterjemahkan menjadi satu motif yang mewakili semuanya.
Karena itulah, setiap peserta tidak hanya diminta mengirimkan desain visual, tetapi juga menyertakan filosofi yang menjelaskan makna di balik motif yang mereka ciptakan. Dewan juri menilai tidak hanya keindahan gambar, melainkan juga kekuatan gagasan yang terkandung di dalamnya.

Maria menilai filosofi menjadi unsur penting karena batik bukan sekadar ornamen. Setiap garis, bentuk, dan simbol harus memiliki cerita yang mampu menjelaskan karakter Kutai Barat kepada siapa pun yang melihatnya.
Upaya menemukan motif khas ini juga menjadi bagian dari langkah yang lebih besar. Dekranasda Kutai Barat tengah menyiapkan workshop batik yang direncanakan menjadi pusat pelatihan sekaligus pengembangan kerajinan batik lokal. Motif pemenang nantinya akan diluncurkan bersamaan dengan peresmian fasilitas tersebut.
Bagi Maria, workshop batik bukan hanya ruang produksi. Ia melihatnya sebagai sarana pemberdayaan masyarakat dan pintu masuk bagi tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
“Nanti saat workshop batik diresmikan, kita sekalian meluncurkan motif pemenang dan mengadakan pelatihan membatik. Ini bisa menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Optimisme itu berangkat dari tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan membatik. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, batik tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga sumber penghasilan baru bagi warga.
Proses penjurian sendiri dilakukan secara tertutup untuk menjaga objektivitas. Bersama Maria, dewan juri terdiri atas Lidia Selvi yang mewakili seni wastra etnis Tunjung dan Junyukng yang mewakili etnis Benuaq. Mereka menilai karya berdasarkan aspek originalitas, kreativitas, keunikan, nilai artistik, keharmonisan motif, serta kemampuan desain dalam menerjemahkan makna budaya.
Di antara puluhan karya yang masuk, hanya satu desain yang kelak akan terpilih menjadi wajah baru Kutai Barat. Namun bagi Maria Christina Frederick Edwin, hasil akhir lomba ini bukan semata menentukan pemenang. Yang lebih penting adalah lahirnya sebuah simbol bersama yang mampu menyatukan keberagaman budaya dalam satu identitas.
Sebab di balik sehelai batik, tersimpan harapan agar kekayaan budaya enam etnis Kutai Barat dapat terus hidup, dikenakan, dan diwariskan dari generasi ke generasi. (Yan)/Adv Diskominfo Kubar)



