PAGI ITU, halaman Polsek Melak tampak lebih sibuk dari biasanya. Deretan personel berseragam berdiri rapi menyambut rombongan tamu dari Jakarta yang datang membawa satu pesan utama: membangun kembali kedekatan polisi dengan masyarakat lewat pelayanan yang lebih humanis.
Selasa, 19 Mei 2026, sekitar pukul 09.00 WITA, rombongan Komisi Kepolisian Nasional atau Kompolnas tiba di Mapolsek Melak, Kabupaten Kutai Barat. Di wilayah yang menjadi salah satu pintu aktivitas masyarakat di tepian Sungai Mahakam itu, kunjungan berlangsung sederhana, namun sarat pesan mengenai wajah kepolisian yang ingin terus berbenah.
Rombongan dipimpin IRJEN POL (Purn) Arief Wicaksono Sudiutomo, didampingi Iip Idulkipli, Andra Wahyu, serta AKP Hariyadi dari Itwasda Polda Kalimantan Timur. Kehadiran mereka turut didampingi Wakapolres Polres Kutai Barat KOMPOL Subari dan disambut langsung Kapolsek Melak IPTU Rinto C. Simanjuntak bersama seluruh personel.
Tak ada seremoni berlebihan. Setelah sesi foto bersama, rombongan langsung memasuki ruang Kapolsek. Di ruangan itu, pembahasan mengenai penanganan kasus narkoba menjadi perhatian utama.
Kanit Reskrim Polsek Melak AIPTU Renson Sinaga memaparkan pengungkapan kasus narkotika dengan tersangka bernama Ishak—sebuah perkara yang menjadi gambaran tantangan aparat di daerah dalam menghadapi peredaran narkoba yang terus bergerak hingga ke wilayah pedalaman.
Namun, bagi Kompolnas, pekerjaan polisi tak berhenti pada penegakan hukum semata. Dalam arahannya, Arief Wicaksono menekankan pentingnya perubahan kultur pelayanan di tubuh Polri. Ia meminta Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) lebih aktif mengenalkan layanan digital seperti Super App Polri, layanan darurat 110, hingga kanal pengaduan Propam kepada masyarakat.
“Polri harus semakin dekat dengan masyarakat melalui pelayanan yang mudah diakses dan responsif,” demikian pesan yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.
Di tengah derasnya kritik publik terhadap institusi kepolisian beberapa tahun terakhir, kunjungan Kompolnas ke daerah seperti Melak menjadi bagian dari upaya menjaga denyut reformasi di tubuh Polri agar tak hanya berhenti di tingkat pusat. Reformasi, menurut Kompolnas, harus terasa hingga ke kantor-kantor polisi sektor yang bersentuhan langsung dengan warga.
Arief juga menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor. Menurut dia, menjaga keamanan di Kutai Barat bukan hanya tugas polisi, melainkan kerja bersama pemerintah daerah, TNI, tokoh adat, tokoh agama, hingga masyarakat setempat.
Di wilayah yang memiliki keberagaman suku dan bentang geografis luas seperti Kutai Barat, pendekatan kolaboratif dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas keamanan.
Pesan lain yang tak kalah penting adalah soal pelayanan humanis. Kompolnas meminta seluruh personel terus meningkatkan profesionalisme dan responsivitas dalam melayani masyarakat.
Kepercayaan publik terhadap polisi, kata dia, dibangun bukan hanya melalui keberhasilan mengungkap kasus, tetapi juga lewat sikap aparat saat berhadapan langsung dengan warga sehari-hari.
Menjelang siang, agenda kunjungan ditutup dengan silaturahmi dan makan siang di kediaman H. Didik Efendi. Setelah itu, rombongan bergerak menuju Bandara Melalan untuk kembali ke Balikpapan.
Di Melak, kunjungan itu mungkin berlangsung hanya beberapa jam. Tetapi pesan yang dibawa Kompolnas jauh lebih panjang: polisi masa depan dituntut bukan sekadar hadir sebagai penegak hukum, melainkan juga pelayan publik yang mampu membangun kepercayaan masyarakat dari tingkat paling bawah.
