Di Balik Polemik, Tabligh Akbar Ponpes Assalam Menjadi Ruang Rekonsiliasi

SENDAWAR, Infokubar.id — Dukungan juga datang dari berbagai tokoh masyarakat Kalimantan Timur. Mantan Wali Kota Samarinda dua periode, Syaharie Jaang, mengajak masyarakat menjadikan tabligh akbar sebagai ruang mempererat ukhuwah Islamiyah, bukan ruang mempertajam perbedaan.

Menurutnya, kegiatan dakwah yang menghadirkan ulama dan masyarakat semestinya dipandang sebagai momentum memperkuat persatuan serta memperkokoh nilai-nilai kebangsaan.

Ja’ang menilai perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, seluruh persoalan sebaiknya diselesaikan melalui dialog dan mekanisme yang berlaku, sehingga tidak berkembang menjadi konflik yang justru merugikan masyarakat luas. Ia berharap seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif selama kegiatan berlangsung.

Bagi Pondok Pesantren Assalam sendiri, tabligh akbar bukan sekadar panggung ceramah. Selama 34 tahun berdiri, pesantren ini tumbuh menjadi simpul pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial. Harlah tahun ini menjadi penanda perjalanan panjang lembaga yang terus berupaya menghubungkan ulama, pemerintah, dan masyarakat dalam satu ruang kebersamaan.

Tema “Hadiri dan Syiarkan” menjadi cerminan semangat itu. Kehadiran ribuan jamaah diharapkan tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi bagian dari penyebaran dakwah yang menyejukkan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Rangkaian Harlah ke-34 juga diisi berbagai kegiatan sosial, mulai dari khitan massal, nikah massal, hingga pelayanan kepada masyarakat. Program-program tersebut memperlihatkan bahwa peran pesantren tidak hanya mencetak santri, tetapi juga hadir sebagai lembaga yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Kehadiran Ustaz Abdul Somad diperkirakan menjadi salah satu daya tarik utama. Dalam berbagai tabligh akbar di sejumlah daerah, ceramahnya dikenal mampu menghadirkan ribuan jamaah melalui penyampaian yang komunikatif, disertai humor, namun tetap sarat pesan keagamaan.

Bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, kegiatan ini juga menjadi bagian dari sinergi antara pemerintah dan lembaga keagamaan dalam membangun karakter masyarakat. Dukungan pemerintah terlihat sejak tahap persiapan melalui koordinasi lintas organisasi perangkat daerah, aparat keamanan, hingga panitia penyelenggara agar kegiatan berlangsung aman, tertib, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Kini, setelah polemik perlahan mereda dan seluruh tahapan perizinan ditempuh, perhatian tertuju pada Sabtu pagi di Arya Kemuning. Ribuan pasang mata diperkirakan akan mengarah ke satu panggung dakwah. Di sana, ceramah akan disampaikan, doa dipanjatkan, dan silaturahmi dipererat.

Di tengah berbagai dinamika yang mengiringinya, Harlah ke-34 Pondok Pesantren Assalam seolah mengingatkan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan ajaran agama, melainkan juga merawat ruang dialog, persaudaraan, dan kebersamaan. Sebab, setelah seluruh perdebatan usai, yang diharapkan tersisa adalah masyarakat yang semakin rukun dalam bingkai Kutai Barat yang damai. (man)

Facebook Comments Box
Matahari Komputer
Bagikan ke