SENDAWAR, Infokubar.id — Jalan darat yang menghubungkan Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, dengan Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara, mulai menjadi alternatif perjalanan masyarakat. Meski saat ini baru dapat dilalui kendaraan roda dua pada musim kemarau, jalur tersebut dinilai membuka peluang besar bagi peningkatan konektivitas antarwilayah.
Camat Muara Pahu, Mauliddin Said, mengatakan akses darat menuju Muara Muntai memiliki jarak tempuh yang jauh lebih singkat dibandingkan jalur Sungai Mahakam yang selama ini menjadi andalan masyarakat.
Menurut dia, keberadaan jalan tersebut menjadi modal penting dalam mendukung mobilitas warga, distribusi kebutuhan pokok, hingga aktivitas perekonomian lintas kabupaten. Karena itu, peningkatan kualitas infrastruktur dinilai menjadi kebutuhan yang perlu mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Kutai Barat.
“Jarak tempuh melalui jalur darat memang lebih dekat dibandingkan menggunakan jalur Sungai Mahakam,” kata Mauliddin.

Ia menjelaskan, pemerintah kecamatan bersama pemerintah kampung dan masyarakat terus berupaya menjaga agar ruas jalan tetap dapat dilalui. Salah satunya melalui kegiatan gotong royong membersihkan semak belukar yang menutupi badan jalan, terutama di sejumlah titik seperti Kampung Loa Deras, Sebelang, dan kawasan lainnya.
Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan sekaligus memastikan akses tetap berfungsi meski dengan keterbatasan infrastruktur yang ada.
Di lapangan, jalan tersebut kini mulai dimanfaatkan masyarakat. Eni Wahyuni, warga Desa Rebaq Rinding, Kecamatan Muara Muntai, mengaku baru pertama kali menggunakan jalur darat saat pulang ke kampung halamannya di Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu.
Perjalanan menggunakan sepeda motor ditempuh sekitar dua jam dengan konsumsi bahan bakar sekitar empat liter. Waktu tersebut jauh lebih singkat dibandingkan menggunakan perahu ketinting yang harus menyusuri Sungai Mahakam selama lima hingga tujuh jam dengan kebutuhan bahan bakar mencapai 10 hingga 20 liter.
Meski demikian, akses tersebut masih memiliki sejumlah keterbatasan. Kendaraan roda empat belum dapat melintas karena masih terdapat jembatan berukuran kecil di wilayah Kampung Bakung, Kecamatan Penyinggahan. Selain itu, layanan feri penyeberangan yang menghubungkan jalur tersebut juga baru mampu melayani kendaraan roda dua.
Menurut Eni, kondisi jalan relatif aman dilalui karena cukup ramai oleh warga yang melintas. Selain masyarakat, jalur itu juga dimanfaatkan pedagang hingga pengendara dari Melak yang menuju Samarinda karena dinilai lebih efisien dibandingkan harus memutar melalui Jalan Trans Kalimantan.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, keberadaan jalur Muara Pahu–Muara Muntai menjadi salah satu potensi konektivitas strategis yang dapat mendukung pemerataan pembangunan kawasan perbatasan. Dengan peningkatan infrastruktur secara bertahap, akses tersebut diharapkan mampu mempercepat mobilitas masyarakat, menekan biaya transportasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah pedalaman yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. (Adv/Diskominfo Kubar)



