Menikmati Keindahan Danau Jempang Dari Kampung Nelayan Suku Bugis

  • Bagikan
Tanjung Jone, kampung Bugis di Danau Jempang. (Dok. Muhammad Kadapi)

WISATA, Infokubar.id – Deru suara mesin ketinting yang membelah danau terbesar di Kalimantan Timur yang memiliki luas sekitar 15.000 Ha kian saling bersahutan. Menjelang Matahari menampakkan sinarnya, beberapa nelayan telah meninggalkan rumah melaju bersama perahu ketinting, senter di kepala, serta kedua tangan di kemudi membawa penuh harapan akan hasil tangkapan ikan menuju luasnya hamparan danau Jempang.

Kampung Tanjung Jone merupakan salah satu kampung yang terdapat di Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur. Butuh waktu sekitar tiga jam via perjalanan darat dari Sendawar, ibukota Kabupaten Kutai Barat menuju ke Kampung Tanjung Isuy, ibukota Kecamatan Jempang. Kemudian perjalanan dilanjutkan sekitar 20 menit menggunakan perahu ketinting dari dermaga Tanjung Isuy melintasi Danau Jempang untuk menuju ke kampung Tanjung Jone. Tak perlu bingung, ada ‘taksi perahu’ yang biasanya terdapat di Dermaga Tanjung Isuy siap mengantar ke penjuru danau.

Moda transportasi air masih menjadi andalan bagi masyarakat Tanjung Jone untuk beraktivitas terutama jika ingin menuju kampung di pesisir danau, seperti Tanjung Isuy, Muara Ohong, Tanjung Jan, Pulau Lanting, Penyinggahan Ilir hingga Desa Jantur di kabupaten tetangga, Kutai Kartanegara (Kukar). Secara geografis, Danau jempang terletak di dua wilayah kabupaten, Kubar dan Kukar.

Dermaga kampung Tanjung Isuy. (Dok. Muhammad Kadapi)

Akses jalan darat yang menghubungkan Tanjung Isuy ke Tanjung Jone kondisinya masih sangat memprihatinkan dan tak kunjung mendapat perhatian dari pemerintah sekitar. Jalan tanah liat bergelombang, ditambah licin dan berlumpur ketika turun hujan, sepanjang 20 km tentu membutuhkan tenaga ekstra baik pengguna roda dua maupun roda empat ketika melintas. Hal ini yang menjadi pertimbangan masyarakat sekitar untuk lebih baik menggunakan perahu ketinting melintasi Danau Jempang ketimbang jalur darat

Saat pertama kali menaiki perahu ketinting meninggalkan dermaga Tanjung Isuy menuju Tanjung Jone kita akan dibuat takjub dengan suguhan pemandangan alam yang luar biasa. Bak di lautan, tampak beberapa pulau dengan pepohonan dan rumput yang hijau, sejauh mata memandang dengan bias matahari dan langit yang biru, burung beterbangan mencari mangsa ikan. Jika beruntung kita akan bertemu burung bangau, burung yang secara fisik ukurannya lebih besar dari burung pada umumnya serta memiliki kaki, leher dan paruh yang panjang yang sedang mencari ikan di pinggir danau.

Sekitar 20 menit mengarungi danau, akan tampak pemukiman penduduk berupa rumah rakit yang terapung serta berjajar rumah panggung di darat. Keduanya diihubungkan jalan jembatan kayu ulin, salah satu kayu asli Pulau Kalimantan. Tampak pula bangunan langgar dan masjid dari kejauhan. Tepat di seberang kampung terdapat daratan seperti pulau, berdiri beberapa rumah dan rakit yang dihuni oleh beberapa kepala keluarga. Warga sekitar menyebutnya Tanjung Reppe, menjadi pertanda bahwa telah memasuki perkampungan Tanjung Jone, kampung nelayan suku Bugis.

Sunrise di Tanjung Jone yang eksotis. (Dok. Muhammad Kadapi)

Momen terbaik saat berada di Tanjung Jone ialah di pagi hari. Letak kampung yang menghadap ke arah timur tepat mengarah ke Danau Jempang. Ketika langit cerah kita akan disuguhkan pemandangan yang menakjubkan, yaitu Matahari terbit atau sunrise yang seolah keluar dari danau memberikan cahaya hangat berwarna kuning keemasan.  Ditambah refleksi yang memantul dari bias air dan lalu lalang perahu ketinting nelayan yang melintas membuat suasana menjadi semakin eksotis, Apalagi saat berada di dermaga Tanjung Jone ditemani orang yang spesial dan segelas kopi, seolah membuat kita berkata “Kutai Barat indah banget yaa”.

Ada lagi salah satu spot yang menarik untuk dikunjungi di kala kondisi air danau sangat surut, yaitu Tasik Semungkaaq. Terletak di pinggir danau sisi utara Tanjung Jone, berupa hamparan pasir luas yang timbul membuat kita serasa berada di pantai air tawar. Untuk sampai ke sini cukup menggunakan perahu ketinting dan butuh waktu sekitar 10 menit saja.

“Dulu, Tanjung Jone awalnya hanya terdapat tujuh rumah yang kala itu dipimpin oleh Kepala Kampung pertama bernama Pantek. Setelah beliau mengunjungi kampung halamannya di Sengkang, Sulawesi Selatan maka ikut merantaulah beberapa keluarga secara berangsur karena ingin mencari nafkah dan penghidupan lebih baik di Tanjung Jone sebagai nelayan, Seiring waktu, selama beberapa generasi penduduk Tanjung Jone pun semakin bertambah hingga sekarang. Saya sendiri merupakan generasi keempat yang telah menetap di Kampung Tanjung Jone” ucap pak Ama Idris, tokoh adat Kampung Tanjung Jone.

Sebagian besar masyarakat kampung yang berjumlah sekitar 800-an jiwa ini berpenghasilan dari hasil tangkapan di danau. Ada yang menjadi nelayan, keramba untuk memelihara ikan, pengepul, dan juga hasil olahan ikan seperti ikan asin, kerupuk, pentol ikan, dan lainnya.

“Dalam sehari saya melaut (pergi mencari ikan) dua kali, yaitu saat subuh hingga pagi kemudian dari sore hingga malam, dan tentu saja harus terbiasa dengan dingin saat malam serta panas saat siang Danau Jempang, belum lagi saat kondisi cuaca sedang buruk bisa menimbulkan ombak besar,” ungkapnya.

Karena belum masuknya PLN untuk kebutuhan listrik dan penerangan, pemerintah kampung telah menyediakan mesin lampu bertenaga diesel yang cukup besar. Dapat menyala selama 6 jam setiap hari untuk warganya, mulai dari jam 6 sore hingga jam 12 malam. Sedangkan air bersih memanfaatkan sumur bor dan dialirkan ke setiap rumah penduduk dengan diwajibkan membayar iuran bulanan.

Suguhan keindahan alam Danau Jempang yang luas, burung-burung yang beterbangan bebas mencari mangsa, pesona Matahari terbit yang memukau, riuh lalu lalang nelayan dengan perahu ketintingnya sedang mencari ikan sungguh berkesan. Tak lupa kita juga dapat menikmati olahan makanan dari ikan yang beragam dengan ciri khas masakan Suku Bugis dari penduduk sekitar dan tentu saja memanjakan lidah.

Jembatan ulin menjadi akses jalan utama kampung. (Dok. Muhammad Kadapi)

Sayangnya potensi pariwisata yang terdapat di Kampung Tanjung Jone ini belum mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat dan pemerintah kampung akan sadar wisata dan sapta pesona. Belum ada homestay atau penginapan untuk pengunjung, rumah makan, pusat olahan makan ringan, dan kerajinan khas untuk cendera mata, pusat informasi wisata, pengelolaan sampah yang memadai, wahana atau atraksi air sekitar danau dan lainnya.

Tentu menjadi harapan kita bersama jika pariwisata dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar, walaupun masih dalam kondisi pandemi Covid-19 tentu masih ada harapan untuk berbenah ke depannya. Tanjung Jone adalah salah satu keindahan Tanaa Purai Ngeriman di Danau Jempang, Danau terluas di Provinsi Kalimantan Timur. Cascade Mahakam yang baru saja ditetapkan sebagai salah satu Danau Prioritas Nasional oleh Presiden Joko Widodo.

———————

Artikel ini merupakan kiriman pembaca infoKubar, Muhammad Kadapi

Bagikan ke
  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: