Menjemput Suara dari Kampung: Minarsih Mengawal Harapan Warga Benung, Lakan Bilem, dan Gabung

SENDAWAR, Infokubar.id – Bagi sebagian masyarakat, pembangunan dimulai dari jalan yang layak, lampu yang menyala saat malam tiba, hingga bantuan yang mampu menggerakkan usaha kecil. Namun, bagi seorang wakil rakyat, pembangunan selalu diawali dengan satu hal yang sederhana: mendengar.

Semangat itulah yang dibawa Anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat Fraksi Gabungan Golkar dari Partai Perindo, Minarsih, saat melaksanakan Reses II Tahun 2026 di mulai pada 7–11 Juli 2026. Dalam agenda tersebut, Minarsih menyambangi masyarakat di Kampung Benung, Kampung Lakan Bilem, dan Kampung Gabung, yang berada di Daerah Pemilihan (Dapil) Kutai Barat I.

Bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai anggota legislatif, Minarsih memanfaatkan momentum reses untuk mendengar secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Di balai kampung dan gedung pertemuan, ia berdialog dengan tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuda, kaum perempuan, kelompok tani, perangkat kampung, hingga warga yang datang menyampaikan harapan mereka.

Suasana diskusi berlangsung hangat dan terbuka. Berbagai aspirasi mengalir, mulai dari kebutuhan perbaikan jalan lingkungan, pembangunan drainase, penerangan jalan umum (PJU), hingga pembangunan fasilitas olahraga bagi generasi muda.

Persoalan ketersediaan air bersih juga menjadi salah satu aspirasi yang paling banyak disampaikan masyarakat. Warga berharap pemerintah daerah dapat menghadirkan program pengadaan air bersih agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Di sektor pertanian dan perikanan, masyarakat mengusulkan adanya bantuan bibit kelapa sawit, bibit kakao, serta bibit ikan melalui program Dinas Pertanian dan Dinas Perikanan Kabupaten Kutai Barat. Bantuan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas usaha masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.

Sementara itu, pelaku UMKM juga berharap adanya dukungan berupa bantuan peralatan dan penguatan usaha agar mampu berkembang dan membuka peluang ekonomi baru di kampung.

Tak hanya itu, masyarakat juga mengusulkan bantuan pembangunan maupun rehabilitasi rumah ibadah, baik masjid maupun gereja, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sarana ibadah sekaligus memperkuat kerukunan umat beragama di Kutai Barat.

Bagi Minarsih, seluruh aspirasi yang disampaikan warga merupakan amanah yang harus dikawal hingga masuk dalam pembahasan pembangunan daerah.

“Reses merupakan kewajiban anggota DPRD untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat. Semua masukan yang disampaikan akan kami kawal dan perjuangkan agar dapat menjadi prioritas pembangunan sesuai kewenangan pemerintah daerah,” ujar Minarsih.

Ia menegaskan, pembangunan yang tepat sasaran harus lahir dari kebutuhan riil masyarakat. Karena itu, setiap usulan yang diterima selama reses akan didokumentasikan, diverifikasi, kemudian diperjuangkan melalui mekanisme pembahasan bersama pemerintah daerah sesuai kewenangan dan kemampuan anggaran.

Selain menyerap aspirasi, Minarsih juga menjelaskan kepada masyarakat mengenai fungsi DPRD dalam bidang legislasi, penganggaran, dan pengawasan, sehingga masyarakat memahami proses yang harus dilalui sebelum sebuah usulan dapat direalisasikan.

Selama lima hari pelaksanaan reses, antusiasme masyarakat di Kampung Benung, Lakan Bilem, dan Gabung terlihat sangat tinggi. Dialog berlangsung interaktif, dengan warga secara aktif menyampaikan kebutuhan pembangunan yang diharapkan dapat segera diwujudkan.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah meluangkan waktu hadir dalam kegiatan reses. Kepercayaan dan aspirasi yang disampaikan menjadi amanah yang akan terus kami perjuangkan di DPRD Kutai Barat,” kata Minarsih.

Ia berharap sinergi antara masyarakat, pemerintah kampung, pemerintah daerah, dan DPRD terus terjalin sehingga pembangunan di Kutai Barat dapat berjalan lebih merata, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat.

Rangkaian Reses II Tahun 2026 kemudian ditutup dengan sesi foto bersama di setiap lokasi sebagai simbol kebersamaan sekaligus komitmen untuk terus menjaga komunikasi antara wakil rakyat dan masyarakat.

Sebab pada akhirnya, setiap pembangunan yang berhasil selalu berawal dari keberanian untuk mendengar suara warga. Dan selama lima hari itu, suara-suara dari Kampung Benung, Lakan Bilem, dan Gabung telah menjadi bagian dari harapan yang siap diperjuangkan di ruang-ruang kebijakan demi Kutai Barat yang semakin maju dan sejahtera. (man)

Facebook Comments Box
Matahari Komputer
Bagikan ke