SENDAWAR, Infokubar.id — Tanjung Isuy kini telah resmi diaktivasi sebagai Desa Budaya oleh Kementerian Kebudayaan. Kampung yang terkenal dengan kekayaan wastra tenun doyo ini kembali menunjukkan denyut warisan leluhurnya melalui gelaran Pesta Sua Doyo 2025.
Ratusan warga memenuhi Lapangan Bola Temenggung Marta, Kecamatan Jempang, pada 24–26 November 2025, dalam selebrasi kebudayaan yang menjadi kebanggaan masyarakat Dayak Benuaq, khususnya para pengrajin tenun doyo.
Di hari kedua, digelar seremonial turut dibuka dan dihadiri Andi Syamsu Rijal dari Kementerian Kebudayaan RI, Plt Asisten I Erik Victory, Plt Kepala Dinas Pariwisata Kubar FX Sumardi, Camat Jempang dan Forkopimcam. Kegiatan dirangkai dengan beluraat adat dan perlombaan tradisional serta fashion show Tenun Doyo.
Ketua Penyelenggara, Erik Extrada, menyebut pesta budaya ini merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang masyarakat dalam memperjuangkan tenun doyo sebagai identitas asli kampung yang berada di tepi Danau Jempang tersebut. Ia mengatakan, sejak Festival Tanjung Isuy 2018, berbagai komunitas terus bergerak untuk menjaga tradisi.
“Ini bukan acara tahunan biasa. Ini hasil perjuangan kami sejak membangun komunitas Tiaq Egah sampai terbentuknya Perkumpulan Tongau Puaringa. Tahun ini perjuangan itu akhirnya mendapat pengakuan pemerintah pusat,” ujarnya, Rabu (26/11/2025).
Erik juga menyoroti tantangan regenerasi pengrajin. Selain pasokan bahan baku motif tenun yang mulai terbatas, kini hanya satu orang di Tanjung Isuy yang masih memiliki kemampuan membuat alat musik jerupai. Ia berharap dukungan lebih kuat untuk pelestarian pengetahuan budaya.
Erik turut menyampaikan harapannya agar generasi muda tetap menjadi garda terdepan pelestarian budaya.
“Mempertahankan budaya jauh lebih sulit daripada memulai. Tapi kalau kita semua terlibat, budaya tidak akan hilang,” katanya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pariwisata, FX Sumardi, mengapresiasi inisiatif masyarakat yang berhasil menghidupkan kembali identitas budaya Tanjung Isuy melalui aktivasi Desa Budaya. Ia menegaskan pentingnya pendampingan agar program ini berjalan berkelanjutan.
“Pesta Sua Doyo bukan hanya agenda seni. Ini bagian dari upaya besar untuk menjaga warisan budaya. Kami di Dispar siap memberi pendampingan supaya kegiatan seperti ini bisa berkelanjutan sebagai agenda tahunan,” ujarnya.
Sumardi menambahkan, posisi Kutai Barat sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara memberikan peluang besar untuk pengembangan destinasi wisata budaya. Karena itu, pemerintah daerah mendorong peningkatan manajemen pariwisata kampung, termasuk pelatihan, pendokumentasian budaya, serta penguatan sentra kerajinan.
“Aktivasi Desa Budaya harus berdampak. Bukan hanya seremonial, tetapi memberi nilai ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya. (*)



