SENDAWAR, Infokubar.id — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kabupaten Kutai Barat berlangsung khidmat dan penuh makna budaya melalui pelaksanaan upacara adat Beliant Bekelew dan Geratuq di Taman Budaya Sendawar, Jumat (7/11/2025).
Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin, mengatakan pelaksanaan dua ritual adat ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Kutai Barat masih menjunjung tinggi nilai-nilai warisan leluhur. Ia menegaskan, keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga dari upaya menjaga jati diri budaya masyarakat.
“Tradisi seperti Geratuq dan Beliant Bekelew adalah warisan luhur yang harus terus dijaga,” ujar Bupati.
Frederick juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan Festival Dahau sebagai momentum memperkuat rasa syukur dan kebersamaan.
“Mari terus wariskan semangat untuk mencintai adat istiadat, menghormati perbedaan, dan menjaga kedamaian di tanah Bumi Tanaa Purai Ngeriman,” pesannya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Presidium Dewan Adat Kutai Barat, Yurang, menjelaskan bahwa upacara Beliant Bekelew memiliki makna penyucian, pengobatan, dan tolak bala yang dilaksanakan secara turun-temurun untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur.
“Ritual dimulai sejak 29 Oktober dan mencapai puncaknya pada 7 November dengan prosesi pemotongan kerbau sebagai simbol penyucian agar Kutai Barat dijauhkan dari marabahaya,” ungkapnya.
Dalam prosesi tersebut, juga dilakukan penanaman Blontang, simbol spiritual pelindung masyarakat dari roh jahat. Blontang diukir menyerupai dua tokoh mitologi Dayak yakni Anak Aji Tulur Jejangkat dan Mook Manor Bebulatn. Patung bagian depan menggambarkan Swalas Gunaaq (Etnis Tunjung), sedangkan bagian belakang melambangkan Naras Gunaaq (Etnis Benuaq).
“Upacara ini bukan hanya ritual adat, tetapi juga simbol persatuan antara manusia dan alam serta perekat kebersamaan masyarakat,” tambah Yurang.
Ketua Panitia Dahau 2025, FX Sumardi, mengatakan bahwa upacara Geratuq menjadi bagian akhir dari seluruh rangkaian Festival Dahau sebelum ditutup dengan prosesi tepung tawar.
“Masih ada satu kegiatan tambahan, yakni pembagian lalus atau upah adat berupa bagian dari hewan yang telah dipotong, seperti kerbau, babi, dan ayam. Setelah itu barulah digelar upacara tepung tawar sebagai penutup resmi,” terangnya.
Menurut Plt. Kadis Pariwisata Kutai Barat ini, antusiasme masyarakat begitu tinggi sepanjang pelaksanaan Festival Dahau tahun ini.
“Masyarakat dari berbagai wilayah datang menghadiri seluruh rangkaian acara, mulai dari kegiatan adat hingga hiburan rakyat. Ini menunjukkan betapa besarnya rasa cinta masyarakat terhadap budaya daerah,” pungkasnya. (Adv/Diskominfo Kubar)
