SENDAWAR, Infokubar.id — Upaya memperkuat identitas budaya Kutai Barat (Kubar) melalui batik mulai menemukan bentuknya. Batik Itah Otur karya Hendra ditetapkan sebagai juara pertama dalam Lomba Desain Batik Khas Kutai Barat 2026 yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kubar.
Karya tersebut menjadi yang terbaik setelah bersaing dengan sejumlah desain batik yang mengangkat kekayaan budaya dan karakter daerah. Juara kedua diraih Batik Persatuan Budaya karya Laurensius Ding Lie, sedangkan Batik Mekar Lestari karya Nabila Syofia Alatif menempati posisi ketiga.
Tiga karya terbaik itu diharapkan tidak hanya menjadi hasil kompetisi, tetapi dapat menjadi pijakan dalam pengembangan batik khas Kubar. Penghargaan diserahkan Ketua Dekranasda Kubar Maria Christina Frederick Edwin, disaksikan Asisten 2 Sekkab Kubar Ali Sadikin dan Plt Kepala Dinas Pariwisata Kubar Sumardi.
Penyerahan penghargaan berlangsung dalam kegiatan Pelatihan Membatik di Sekretariat Dekranasda Kubar, Kelurahan Barong Tongkok, Kecamatan Barong Tongkok, Rabu (12/8/2026).
Ketua Dekranasda Kubar Maria Christina Edwin mengatakan, lomba tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk menentukan desain terbaik. Menurutnya, ajang ini menjadi bagian dari proses menggali motif yang dapat merepresentasikan karakter, kekayaan budaya, alam, serta potensi daerah.
“Kami ingin batik khas Kubar memiliki identitas yang kuat. Motif yang dihasilkan harus mampu bercerita tentang Kubar dan menjadi kebanggaan masyarakat,” ujarnya.
Maria berharap karya-karya yang telah masuk dalam jajaran terbaik dapat dikembangkan lebih jauh sehingga tidak berhenti sebagai desain lomba. Dekranasda, kata dia, akan mendorong pengembangan motif tersebut menjadi batik tulis yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi.
“Jangan sampai berhenti hanya pada lomba. Kami berharap desain ini bisa dikembangkan, diproduksi dan dipasarkan sehingga memberikan dampak ekonomi bagi para pembatik dan masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengembangan batik khas Kubar juga berkaitan erat dengan upaya menjaga identitas budaya daerah. Untuk itu, diperlukan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari perajin, pemerintah, pelaku usaha, media hingga masyarakat sebagai pengguna produk lokal.
“Semakin banyak masyarakat bangga mengenakan batik tulis Kubar, semakin kuat pula identitas daerah yang kita bangun. Ini bukan hanya soal kain dan motif, tetapi juga tentang bagaimana budaya Kubar dikenal lebih luas,” pungkasnya. (Adv/Diskominfo Kubar)
