Dari Pondok Sederhana, Sadli Membawa Suara Warga ke Ruang Parlemen

SENDAWAR, Infokubar.id — Tidak ada meja rapat panjang, pendingin ruangan, ataupun susunan acara resmi. Di sebuah pondok sederhana di Kecamatan Melak, Sadli duduk bersama sejumlah warga dan sejawatnya. Kopi disuguhkan dalam gelas seadanya, sementara percakapan berlangsung santai tanpa batas antara masyarakat dan wakil rakyat.

Sadli, yang akrab disapa Alex, memang lebih memilih membangun komunikasi dengan cara yang dekat dan natural. Anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat dari Partai Gerindra itu tidak hanya menemui masyarakat ketika masa reses atau agenda kedinasan berlangsung. Baginya, perjumpaan sederhana juga dapat menjadi ruang untuk mendengar keadaan masyarakat secara lebih jujur.

Di tengah obrolan ringan, pembicaraan perlahan mengarah pada persoalan ekonomi. Warga menyampaikan sulitnya memperoleh pekerjaan, terutama bagi generasi muda yang baru menyelesaikan pendidikan. Sebagian lainnya membicarakan peluang usaha kecil yang sebenarnya dapat dikembangkan, tetapi masih terbentur modal, pemasaran, perizinan, dan keterbatasan pendampingan.

Alex tidak buru-buru menanggapi. Ia lebih banyak mendengarkan, sesekali mengajukan pertanyaan untuk memahami persoalan yang disampaikan. Suasana yang tidak formal membuat warga lebih terbuka menceritakan kebutuhan mereka.

Bagi Alex, suara-suara seperti itulah yang harus dibawa ke ruang parlemen.

“Aspirasi masyarakat merupakan amanah. Apa yang disampaikan akan menjadi perhatian dan kami perjuangkan sesuai kewenangan yang ada di DPRD,” ujarnya.

UMKM dan Lapangan Kerja Jadi Perhatian

Dari berbagai persoalan yang diterimanya, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah menjadi salah satu isu yang dinilai perlu memperoleh perhatian lebih serius. UMKM tidak hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, tetapi juga memiliki kemampuan menciptakan lapangan kerja baru di lingkungan masyarakat.

Alex menilai Kutai Barat mempunyai banyak potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari produk pangan lokal, pertanian, perkebunan, kerajinan, usaha jasa hingga ekonomi kreatif. Namun, potensi tersebut membutuhkan kebijakan yang mendukung agar tidak berhenti sebagai usaha berskala kecil dengan pasar terbatas.

Pelaku usaha perlu mendapatkan pembinaan yang berkelanjutan, kemudahan mengurus legalitas, akses terhadap permodalan, peningkatan kualitas kemasan, serta dukungan promosi. Pemerintah daerah juga diharapkan memberi ruang lebih luas bagi produk lokal untuk masuk dalam kegiatan pemerintahan maupun pasar yang lebih besar.

Menurut Alex, pertumbuhan UMKM akan berjalan beriringan dengan terbukanya kesempatan kerja. Semakin banyak usaha masyarakat yang berkembang, semakin besar pula peluang bagi anak-anak muda untuk bekerja tanpa harus meninggalkan daerah.

“Pembangunan bukan hanya mengenai infrastruktur. Masyarakat juga harus memperoleh kesempatan untuk bekerja, berusaha, dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya,” katanya.

DEKAT TANPA SEKAT — Anggota DPRD Kutai Barat dari Partai Gerindra, Sadli alias Alex (kiri), berbincang santai bersama sejawat di sebuah angkringan di Kecamatan Melak. Di sela secangkir kopi dan obrolan ringan, ia menyerap aspirasi mengenai penguatan UMKM, peluang usaha, serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat.


Tidak Berhenti pada Catatan

Sebagai anggota DPRD, Alex memahami bahwa setiap aspirasi harus diperjuangkan melalui mekanisme yang tersedia. Suara masyarakat dapat dibawa dalam pembahasan bersama pemerintah daerah, disampaikan melalui rapat kerja dengan perangkat daerah, serta menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program dan anggaran.

Di situlah fungsi representasi seorang anggota parlemen diuji. Aspirasi yang didengar di pondok, warung kopi, rumah warga maupun forum resmi tidak semestinya berhenti sebagai catatan pribadi. Aspirasi tersebut perlu didengungkan agar mendapat ruang dalam kebijakan pembangunan.

Alex juga menyadari tidak semua kebutuhan dapat langsung direalisasikan. Ada proses perencanaan, penyesuaian kewenangan, kemampuan keuangan daerah, hingga penentuan skala prioritas. Namun, keterbatasan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menutup ruang komunikasi dengan masyarakat.

Ia berupaya menjaga hubungan sosial dengan warga dan sejawatnya, bukan sekadar ketika membutuhkan dukungan politik. Kedekatan itu menjadi cara untuk mengetahui perubahan yang berlangsung di tengah masyarakat apa yang sedang mereka hadapi, peluang apa yang dapat dikembangkan, dan kebijakan apa yang paling dibutuhkan.

Pertemuan di pondok sederhana itu akhirnya kembali diisi obrolan ringan. Tidak ada janji berlebihan ataupun seremoni penyerahan proposal. Namun, di balik percakapan yang mengalir, tersimpan harapan agar UMKM lokal semakin berkembang dan peluang kerja bagi masyarakat Kutai Barat semakin terbuka.

Bagi Alex, tugas wakil rakyat memang berlangsung di ruang sidang. Namun, sumber perjuangannya tetap berasal dari masyarakat dari suara yang didengar, persoalan yang dipahami, lalu dibawa untuk didengungkan di ruang parlemen. (man)

Facebook Comments Box
Matahari Komputer
Bagikan ke