Lamin Mancong, Rumah Panjang Legendaris di Kutai Barat

  • Bagikan
Lamin Mancong, salah satu cagar budaya kebanggan Kutai Barat. (Dok. Muhammad Kadapi)

infoKubar.id, WISATA – Bicara tentang Kutai Barat tidak lengkap rasanya tanpa menyinggung tentang keanekaragaman kekayaan seni, budaya, maupun adat istiadat yang terdapat dalamnya. Kabupaten ini memiliki moto Kabupaten Beradat yang merupakan akronim dari Bersih, Asri, Damai, Adil, dan Tentram.

Dihuni oleh mayoritas etnis dari suku Dayak dengan berbagai sub-sukunya yang masih berpegang teguh terhadap warisan leluhur serta beberapa suku lainnya, menjadikan Kutai Barat sebagai kabupaten multietnis yang sangat beragam akan kebudayaan.

Lamin Mancong sempat dipugar HIF (Equatorial Heritage International Foundation). (Dok. Muhammad Kadapi)

Seperti halnya salah satu kampung yang terdapat di Kecamatan Jempang ini, yaitu Kampung Mancong yang terkenal luas hingga mancanegara akan bangunan megah rumah panjangnya, yaitu Lamin Mancong atau Lamin Adat Dayak Benuaq Kampung Mancong dalam bahasa lokal disebut Lou’ Mancukng.

Kampung yang dibelah oleh sungai Ohokng ini sebagian besar dihuni komunitas Adat Dayak Benuaq Ohokng Sangokng merupakan komunitas adat yang berada di Kecamatan Jempang, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Komunitas ini terbagi menjadi dua kampung, yaitu Kampung Muara Tae dan Kampung Mancong (Mancukng).

Sungai Ohokng membelah Kampung Mancong. (Dok. Muhammad Kadapi)

Sungai Ohokng yang melintasi kampung ini merupakan urat nadi kehidupan Masyarakat Adat di daerah ini akhirnya menjadi nama yang melekat pada Komunitas Dayak Benuaq ini. Sebutan Sangokng merupakan nama lamin yang juga digunakan komunitas ini, sehingga dikenal Komunitas Adat Dayak Benuaq Ohokng Sangokng. (Alexander Hairudin, Aman Kaltim)

Lamin yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kutai Barat melalui Peraturan Bupati No. 8 Tahun 2013 ini merupakan satu-satunya bangunan lamin di Kutai Barat yang memiliki dua lantai. Rumah adat ini memiliki luas sekitar 1.005 meter persegi. Sebagian besar bangunan terbuat dari kayu Ulin, kayu asli Kalimantan yang terkenal sangat kuat dan berumur panjang juga mahal harganya. Sementara bagian atapnya menggunakan sirap dan puluhan Blontakng berdiri gagah di halaman lamin. Blontakng merupakan batang kayu Ulin yang diukir untuk mengikat kerbau saat acara adat Kwangkai (upacara adat kematian). Di bagian dalamnya total terdapat 24 kamar, masing-masing sebanyak 12 kamar di lantai pertama dan kedua.

Halaman depan Lamin Mancong dipenuhi patung berbagai bentuk dan ukuran. (Dok. Muhammad Kadapi)

Walaupun sudah tidak ditempati lagi sebagai rumah tinggal, namun Lamin Mancong ini mengalami perluasan fungsi, saat ini masih digunakan untuk beberapa ritual adat seperti Berinukng (musyawarah), Beliatn (pengobatan), Kwangkai (kematian) serta pernikahan adat.

Masing-masing kamar dimiliki oleh ahli waris atau keturunan dari pendiri Lamin, yaitu Tumenggung Ban. Lamin ini dibangun sekitar awal abad ke-20 Masehi. Pada saat ini kamarnya bisa disewakan kepada wisatawan, sebut ibu Yohana Pang yang menjadi pengurus sekaligus masih keturunan pendiri Lamin Mancong menceritakan dengan ramah dan penuh senyum.

Menurut beliau juga banyak wisatawan domestik dan asing yang berkunjung untuk melihat bangunan Lamin dan disambut secara adat. “Jika ingin disambut dengan tari-tarian tradisional juga bisa, ada Tari Gantar, Tari Gong, Tari Beliatn Bawo. Selain tarian juga ada atraksi menyumpit yang bisa memberikan pengalaman tersendri kepada wisatawan.

“Tinggal saya pukul gong kecil, maka datanglah para penari-penari ke Lamin Mancong,” ujar Ibu Yohana yang rumahnya berada tepat di depan Lamin Mancong.

Akses untuk mengunjungi Lamin Mancong ini bisa melewati dua cara, jalur darat dan jalur sungai. Jalur darat bisa diakses baik roda dua maupun roda empat dari Sendawar, ibu kota Kutai Barat dengan waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan atau dari kota Samarinda yang memakan waktu sekitar 5 jam perjalanan melalui jalan Trans Kaltim Samarinda-Kutai Barat.

Bagi wisatawan yang ingin mencoba jalur sungai bisa melalui sungai Mahakam, dari Samarinda atau Tenggarong singgah di Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara terlebih dahulu kemudian dilanjutkan menggunakan perahu ketinting menyusuri Danau Jempang dan sungai Ohokng. Banyak ‘taksi air’ yang siap mengantar wisatawan sampai ke tujuan jadi tak perlu khawatir untuk sampai ke sana.

Jembatan di atas Sungai Ohokng. (Dok. Muhammad Kadapi)

Namun selama pandemi Covid-19 sesuai anjuran pemerintah agar mengurangi penularan virus tersebut, objek wisata Lamin Mancong ditutup sementara untuk penyambutan tamu. Akan tetapi, wisatawan masih bisa berkunjung untuk menikmati keindahan bangunan Lamin Mancong dengan menerapkan protokol Kesehatan.

———————

Artikel ini merupakan kiriman pembaca infoKubar, Muhammad Kadapi

Bagikan ke
  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: