SENDAWAR, Infokubar.id – Komitmen kuat terhadap masa depan anak-anak berkebutuhan khusus di Kutai Barat terus diwujudkan. Hal itu tampak saat kunjungan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten, Maria Christina Moses, ke Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kutai Barat. Didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Barat, RL Bandarsyah, serta jajaran kepala bidang, kunjungan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, melainkan juga sebuah momentum penting untuk mendengarkan langsung aspirasi dan mengidentifikasi kebutuhan vital SLBN demi peningkatan kualitas pendidikan yang inklusif.
Kunjungan ini secara khusus menyoroti tantangan krusial yang dihadapi SLBN Kutai Barat, yaitu rasio guru yang belum ideal dan keterbatasan infrastruktur listrik. Kepala APBN, Paina Mardiati menyampaikan bahwa dengan 127 siswa, sekolah ini hanya didukung oleh 14 guru.
“Idealnya satu guru maksimal 5 anak untuk SLB. Namun, dari total 127 anak, gurunya hanya 14 orang,” ujar Paina.
Sebuah fakta yang menunjukkan urgensi penambahan tenaga pengajar. Selain itu, Paina juga mengemukakan tantangan listrik yang kerap tidak kuat voltasenya, menghambat impian untuk menghadirkan kenyamanan pendingin udara (AC) di setiap kelas bagi para siswa. Kondisi ini menjadi fokus perhatian utama dalam upaya bersama meningkatkan fasilitas belajar.
Momen kunjungan ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan suasana Hari Anak Nasional, sebuah kesempatan untuk menegaskan kembali komitmen terhadap pemenuhan hak-hak anak, terutama hak atas pendidikan yang setara.
Maria Christina menunjukkan kepeduliannya yang mendalam dan ketulusan hati saat menyapa langsung para siswa dan guru.
“Kami memang senang berkunjung ke sekolah untuk bertemu anak-anak. Kebetulan ini masih nuansa Hari Anak Nasional. Jadi, kami secara tiba-tiba langsung ke sini untuk menyapa, memberikan semangat kepada guru-guru dan juga para orang tua,” tutur Maria.
Lewat pancaran aura keibuan dan dukungan yang hangat, Maria menegaskan bahwa anak-anak di SLBN adalah “anak-anak kita” yang berhak mendapatkan pendidikan terbaik dan perhatian penuh.
Semangat pendidikan inklusif yang diemban Ibu Maria selaras dengan kebijakan nasional, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif. Regulasi ini menjadi panduan penting dalam memastikan setiap anak berkebutuhan khusus mendapatkan akses pendidikan yang layak dan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan mereka.
Meskipun secara administratif SLBN Kutai Barat berada di bawah Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur sesuai Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Kadisdikbud Kubar, RL Bandarsyah, menegaskan peran aktif pemerintah daerah dalam mendukung sekolah ini. Karena walau bagaimanapun anak-anak yang bersekolah di SLBN Kutai Barat adalah anak-anak Kutai Barat.
Dengan kunjungan ini, di Kutai Barat saya harap ada lebih banyak lagi SLB dan disediakan fasilitas dan tenaga pengajarnya,” ucap Bandarsyah.
Ia mengakui tantangan dalam mencari tenaga pendidik khusus, namun hal ini justru menjadi motivasi untuk mencari solusi kreatif. Sebagai langkah konkret, pihaknya berencana untuk menghibahkan alat permainan edukatif, sebuah inisiatif yang akan sangat bermanfaat bagi metode pembelajaran di SLBN.
Kunjungan yang penuh makna ini tidak hanya sekadar formalitas, melainkan menjadi bukti nyata sinergi positif antara pemerintah daerah dan PKK dalam mengawal dan mewujudkan pendidikan yang merata. (*)



