Pangkas Jarak, Mungkinkah Terwujud Jalur Poros Tengah Kubar-Samarinda?

SENDAWAR, Infokubar.id – Pembangunan jalan poros tengah, akses Kutai Barat (Kubar) ke Samarinda menjadi harapan warga agar bisa terwujud dengan cepat. Selain karena jarak dan waktu tempuhnya yang jauh lebih singkat dibandingkan jalan Trans Kalimantan saat ini, hal ini sekaligus membuka isolasi perkampungan dan kecamatan yang berada di sepanjang pesisir Sungai Mahakam.

Sebagai informasi, akses poros tengah ini meliputi koneksi dari Kecamatan Melak-Muara Pahu-Penyinggahan di wilayah Kubar. Kemudian tiga kecamatan di Kutai Kartanegara (Kukar), yakni Muara Muntai, Muara Wis, dan Kota Bangun.

Namun dari akses ini, jalur yang belum terbuka adalah ruas jalan dari Kampung Muara Beloan ke Tanjung Laong, Kecamatan Muara Pahu.

“Untuk link ini (red: Muara Beloan-Tanjung Laong), kami sudah membicarakan bersama lima kepala kampung di ibu kota Kecamatan Muara Pahu. Mereka menyatakan dukungannya agar link tersebut segera dibuka/dibangun,” kata Rudi, Kepala Kampung Muara Beloan saat dihubungi media ini Kamis (15/9/2022) kemarin.

Lima kepala kampung yang menyatakan dukungan itu adalah Kampung Tanjung Laong, Muara Baroh, Teluk Tempudau, Tepian Ulaq, dan Sebelang. Jika dilakukan pembukaan jalan baru akses jalan Tanjung Laong ke Muara Beloan diperkirakan sepanjang sekitar 20 kilometer.

Warga kelima kampung tersebut selama ini, lanjut Rudi, jika ingin ke ibu kota kabupaten harus menempuh jalur darat yang sangat jauh. Yakni harus ke melintasi jalan Trans Kalimantan di Kampung Muara Tae, Kecamatan Jempang. Kemudian melintasi sejumlah kampung di Kecamatan Siluq Ngurai, Damai, dan Barong Tongkok.

Perjalanan setidaknya memakan waktu antara 2,5 sampai 3,5 jam. Hal yang sama jika melalui jalur Sungai Mahakam, butuh waktu sekitar 3,5 sampai 4 jam menggunakan perahu ketinting. Lebih lama lagi jika menumpang taksi kapal motor. Bahkan kondisi yang lebih jauh lagi bagi sejumlah kampung di Kecamatan Penyinggahan.

Selama ini jika musim kemarau, warga terpaksa menggunakan jalur pendekat dengan memakai perahu ketinting ke Kampung Tanjung Pagar, Kecamatan Muara Pahu. Dilanjutkan menggunakan sepeda motor ke ibu kota kabupaten melintasi Kampung Muara Beloan-Muara Bunyut. Lebih dekat sekitar 1,5 jam.

“Tapi jika jalan ini mulus sekitar 1 jam sudah sampai ke ibu kota kabupaten. Lebih dekat lagi jika ada jalan Tanjung Laong ke Muara Beloan,” terangnya.

Pentingnya jalan poros tengah juga, tambah dia, jika benar-benar dibangun maka warga Kubar dan Kabupaten Mahakam Ulu lebih dekat. Lantas jika warga ingin ke Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan di pertigaan jalan trans Kalimantan di Kecamatan Muara Lawa. Sudah terkoneksi dari Melak atau Muara Pahu ke jalan hauling PT Teguh Sinar Abadi dan PT Trubaindo Coal Mining.

“Koneksinya di jembatan tambang yang menyeberangi jalan Trans Kalimantan dekat Kajuk, Kampung Benggeris, Kecamatan Muara Lawa,” terangnya.

Untuk membuka akses Muara Beloan-Tanjung Laong, berharap agar pemerintah provinsi bisa membuka jalannya sekitar 20 kilometer. Kemudian bisa juga sharing dana Pemkab Kubar untuk perintisan dan perencanaannya. Sehingga pada tahun anggaran 2023 bisa terbangun.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat Provinsi Kaltim Irhamsyah menyebut, usulan pembukaan jalan poros tengah terutama koneksi dari Kampung Muara Beloan-Tanjung Laong akan menjadi perhatian.

“Kalau tahun ini (2022) tidak bisa. Insya Allah anggaran tahun depan (2023) akan kita coba usulkan,” katanya.

Penulis: Lukman Hakim

Facebook Comments Box
Bagikan ke
Pasang Iklanmu
%d blogger menyukai ini: