InfoKubar

Pemuda Diminta Siap Hadapi Transformasi Digital, DPRD Kaltim Tekankan Penguatan Keterampilan

Anggota DPRD Kalimantan Timur – Sapto Setyo Pramono.

SAMARINDA, Infokubar.id — Anggota DPRD Kalimantan Timur, Sapto Setyo Pramono, menekankan pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi transformasi digital yang semakin cepat dan kompleks. Menurutnya, pemuda harus memiliki keterampilan yang relevan untuk bersaing di era globalisasi.

“Yang paling utama adalah generasi muda harus benar-benar mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan yang ada,” ujar Sapto, Selasa (2/12/2025).

Ia mencontohkan penguasaan perangkat lunak teknis seperti Autocad bagi mahasiswa teknik sipil, yang menurutnya penting sebagai alat bantu, meski kemampuan menggambar tetap wajib dikuasai.

“Untuk mahasiswa teknik sipil, Autocad itu alat yang mempermudah proses penggambaran. Itu hanya alat bantu, namun kemampuan menggambar tetap wajib dikuasai,” jelasnya.

Sapto juga menekankan perlunya pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga menyiapkan mahasiswa menghadapi tantangan dunia kerja secara nyata.

“Saya berharap para dosen ke depan bisa memaksimalkan pembelajaran secara lebih mendalam. Jangan hanya sebatas teori, karena tantangan setelah lulus itu jauh lebih besar,” ungkapnya.

Selain itu, ia mendorong penguasaan bahasa asing, tidak hanya Bahasa Inggris tetapi juga Mandarin, untuk menghadapi persaingan tenaga kerja global, mengingat pengaruh teknologi dan produk dari negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Rusia.

“Indonesia berada dalam arus globalisasi. Tidak ada salahnya kita mempelajari lebih banyak bahasa. Jangan hanya Bahasa Inggris, tetapi tambahkan juga Mandarin supaya kita tidak kalah bersaing dengan tenaga asing,” tegasnya.

Sapto menambahkan, rendahnya minat membaca masih menjadi kendala, sehingga kapasitas literasi masyarakat belum maksimal. Budaya instan membuat masyarakat mudah terjebak menjadi konsumen, padahal potensi pengetahuan sebenarnya cukup besar.

“Kita sebenarnya tidak kalah dari sisi pengetahuan, hanya saja keterbatasan bahasa sering menjadi kendala. Selain itu, budaya membaca kita masih lemah. Banyak yang ingin serba instan, sehingga kita mudah terjebak menjadi negara konsumen,” tuturnya. (Adv/DPRD Kaltim)

Bagikan ke
Exit mobile version