Puskesmas Terapung Riwayatmu Kini, Dulu Jadi Inovasi dan Solusi

Puskesmas Terapung KM Mook Manaar Bulatn kini tidak beroperasi dan tertambat di samping Pelabuhan Melak Ulu. (Foto: infokubar.id/Fitra)

SENDAWAR, Infokubar.id – Di awal Kabupaten Kutai Barat terbentuk, masih sangat sedikit fasilitas kesehatan yang bisa dijangkau masyarakat. Ditambah lagi kondisi geografisnya yang menyulitkan masyarakat untuk pergi ke puskesmas pembantu maupun rumah sakit karena jaraknya yang jauh.

Inovasi pelayanan kesehatan ini sengaja dibuat untuk menjangkau masyarakat yang memang sebagian besar tinggal di pesisir Sungai Mahakam. Maklumlah, jalur transportasi darat kala itu masih sangat terbatas karena keadaan medan yang tidak memungkinkan.

Hal ini berimbas kebanyakan masyarakat lebih memilih pengobatan ke dukun atau alternatif ketimbang secara medis. Kehadiran puskesmas terapung yang lokasinya bisa berpindah-pindah memudahkan masyarakat mendapat fasilitas kesehatan.

Banyak masyarakat khususnya yang tinggal di pesisir sungai Mahakam terbantu meskipun tak setiap hari bisa mendapat pelayanan kesehatan.

Dikutip dari artikel detikHealth tahun 2011 berjudul “Puskesmas Terapung yang Mondar-mandir di Sungai Mahakam” ide awal berasal dari Bupati Kutai Barat kala itu, Ismail Thomas pada 2006. Baru pada November 2008, puskesmas terapung ini resmi beroperasi.

“Tujuannya melayani masyarakat yang ada di bantaran sungai mahakam sehingga bisa menyentuh ke masyarakat banyak dan untuk melayani kesehatan ini musti jemput bola,” ujar mantan Bupati Kubar yang kini duduk di Senayan sebagai anggota DPR RI.

Fasilitas puskesmas terapung ini terbilang lengkap karena bisa melayani kesehatan umum, gigi, ibu dan anak serta keluarga berencana (KB) bahkan ada dokter spesialis yang datang secara berkala.

Meski puskesmas ini berada di dalam kapal, tapi peralatan yang dimiliki cukup lengkap seperti ada alat USG, peralatan bedah minor, laboratorium serta rontgen portable yang standarnya sama seperti pelayanan kesehatan di darat.

Rute pelayanan puskesmas terapung ini dimulai dari Pelabuhan Melak yang berada di tengah-tengah kabupaten menuju daerah hulu sungai. Kemudian balik lagi ke Pelabuhan Melak untuk mengambil kebutuhan logistik lalu berangkat menuju daerah hilir sungai.

Pasien yang mendatangi puskesmas terapung ini terbilang banyak bahkan pernah dalam 1 hari melayani hingga 200 pasien dengan waktu kerja sekitar 20-24 hari dalam sebulan tergantung kondisi cuaca.

Meski begitu di kapal ini juga terdapat ruang santai seperti fasilitas karaoke yang bisa digunakan oleh para kru puskesmas untuk melepas lelah dan juga mengurangi tingkat stres karena harus berada di atas kapal dalam jangka waktu lama.

Seiring makin banyaknya terbangun faskes seperti puskesmas, puskesmas terapung mulai dihentikan operasionalnya. Apalagi biaya yang diperlukan untuk puskesmas terapung ini sekitar Rp 1,7 miliar per tahunnya.

Kini fisik kapalnya masih utuh dan tertambat manis persis di samping Pelabuhan Melak. Setiap penumpang kapal yang bersandar tentu akan menjumpai kapal satu ini di sisi kiri pelabuhan yang beristirahat setelah perjalanan panjangnya hilir mudik sungai Mahakam melayani pasien. (*)

Penulis: Fitra Mayca | Editor: Lukman Hakim

Facebook Comments Box
Bagikan ke
Pasang Iklanmu
%d blogger menyukai ini: