Tarif Kapal Sungai Naik Tajam, Pelaku Transportasi dan Warga Sama-sama Resah

SENDAWAR, Infokubar.id — Kenaikan tarif angkutan sungai di Kalimantan Timur menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat pedalaman dan pelaku usaha transportasi air. Kapal sungai yang selama ini menjadi andalan warga di hulu sungai Mahakam kini dikhawatirkan akan kehilangan penumpang setelah terbitnya tarif baru melalui Keputusan Gubernur Kaltim Nomor 100.3.3.1/K.335/2025.

Salah satu pemilik kapal rute Samarinda–Long Bagun, Akbar Maulana, mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Namun, ia tak menampik adanya kekhawatiran terhadap dampak ekonomi yang akan dirasakan masyarakat.

“Kami ini cuma bisa ikut aturan karena harga bahan bakar juga naik. Tapi terus terang, kami khawatir masyarakat makin terbebani. Kalau ongkos kapal naik, otomatis harga kebutuhan di pedalaman juga ikut naik,” ujarnya kepada Infokubar.id, Rabu (22/10/2025).

Akbar menambahkan, biaya operasional kapal terus meningkat karena keterbatasan pasokan bahan bakar bersubsidi.

“Kadang kami harus beli BBM industri yang jauh lebih mahal. Padahal kapal sungai ini sangat vital untuk warga pedalaman, dari pedagang, rumah tangga, sampai distribusi bahan bangunan,” terangnya.

Operator kapal lain juga menyebut keberatan dengan kenaikan ini. Besaran tarif menurutnya tidak wajar itu menimbulkan kekhawatiran terhadap penurunan jumlah penumpang.

“Kondisi sekarang saja penumpang masih naik turun, membludak hanya di hari besar seperti lebaran, natal, tahun baru saja. Kalau sampe diberlakukan dan jadi sepi bisa bangkrut kapal mahakam,” tuturnya.

Sementara itu di lapangan, sebagian besar operator kapal di Mahakam masih menerapkan tarif lama sambil menunggu sosialisasi dan penyesuaian dari pihak terkait. Untuk kelas ekonomi, tarif rute Samarinda–Melak misalnya, masih di angka Rp150 ribu, dan Samarinda–Long Bagun Rp400 ribu.

Dari sisi penumpang, keresahan juga dirasakan warga. Arni, warga Melak, menilai kenaikan tarif yang hampir dua kali lipat menjadi beban tambahan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

“Kapal itu satu-satunya transportasi murah dan nyaman bagi kami. Sekarang tarifnya naik, sementara daya beli masyarakat menurun,” ujarnya.

Ia yang menjadikan kapal sebagai transportasi andalan ketika hendak berlibur bersama keluarga berharap pemerintah memperhatikan peningkatan fasilitas pelabuhan jika tarif baru tetap diberlakukan.

“Setidaknya pelabuhan dibuat lebih aman dan nyaman bagi penumpang,” harapnya.

Ia menambahkan, bukan tidak mungkin masyarakat akan mengalihkan pilihannya ke moda transportasi lain. Lewat darat misalnya, perbedaan harga yang tidak signifikan tetapi waktu perjalanan bisa terpangkas jauh.

Meskipun Pemerintah Provinsi Kaltim berdalih, penyesuaian tarif dilakukan untuk menyesuaikan dengan kenaikan harga bahan bakar dan biaya operasional. Namun, bagi warga pedalaman, kebijakan ini terasa berat seperti pukulan baru di tengah keterbatasan pilihan transportasi yang mereka miliki. (*)

Facebook Comments Box
Matahari Komputer
Bagikan ke