SAMARINDA, Infokubar.id — Fenomena kekerasan terhadap anak kembali menjadi sorotan serius di Kalimantan Timur. Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, H. Baba, menanggapi sejumlah kasus penganiayaan yang melibatkan orang tua sebagai pelaku, termasuk dugaan pembunuhan yang belakangan mencuat.
“Apabila seorang orang tua sampai melakukan tindakan yang merenggut nyawa anaknya, itu merupakan batas yang sangat memprihatinkan. Namun kita juga tidak boleh serta-merta memberikan vonis. Bisa jadi terdapat persoalan kesehatan mental yang belum pernah diperiksa,” ujar H. Baba, Jumat (5/12/2025).
H. Baba menekankan bahwa penanganan kasus kekerasan terhadap anak tidak bisa hanya berfokus pada aspek hukum. Menurutnya, akar masalah sering kali terkait ketidakmampuan orang tua mengendalikan emosi, tekanan ekonomi, dan kurangnya pemahaman dalam menghadapi perilaku anak.
“Jika ada anak yang dinilai sulit dikendalikan, saya kira langkah yang tepat adalah membawanya ke tenaga profesional seperti psikiater. Jangan justru mengambil tindakan kekerasan. Sudah seharusnya orang tua menjadi pelindung, bukan pelaku,” jelasnya.
Selain itu, H. Baba menekankan pentingnya pembinaan orang tua terkait pola asuh yang sesuai perkembangan zaman. Ia mengingatkan agar orang tua tidak memaksakan kehendak tanpa mempertimbangkan kondisi emosional dan kemampuan anak.
“Kami berharap para orang tua tidak bersikap berlebihan dalam membina anak. Hindari metode yang keras atau memaksakan sesuatu di luar kapasitas anak,” tegasnya.
Komisi IV DPRD Kaltim berkomitmen mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, dinas terkait, dan lembaga perlindungan anak untuk mencegah kasus serupa berulang. Salah satu langkah utama adalah memperkuat layanan konseling keluarga serta meningkatkan sosialisasi mengenai kesehatan mental.
“Pemerintah harus hadir memberikan edukasi dan menyediakan ruang konsultasi yang mudah diakses, terutama bagi keluarga yang menghadapi tekanan tinggi. Kita tidak boleh lengah,” pungkasnya. (Adv/DPRD Kaltim)



