Telkom Kebanggaan, Tapi Kok?

  • Bagikan

OPINI, Infokubar.id – Layanan telekomunikasi di Indonesia, “dikuasai” oleh PT Telkom Indonesia Tbk. yang tengah menggurita melalui beberapa anak perusahaan dari Telkom Group. Salah satunya adalah PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel). Bahkan, Telkom mengklaim sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar dengan jumlah pelanggan telepon tetap sebanyak 15 juta dan pelanggan telepon seluler sebanyak 104 juta. Pengguna internet hingga Maret 2021 tercatat mencapai 212,36 juta dari estimasi total populasi Indonesia 276,3 juta.

Pilihan layanan pun menjamur. Hadir penyedia layanan internet berbasis fixed broadband lewat produk Indihome. Tidak saja daftar paket melalui wifi Indihome. Jenis-jenis paket ini memiliki kecepatan dan tarif yang beragam. Secara garis besar paket internet Indihome terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan bundling jenis layanan yang dipaketkan, yakni internet only (1P), internet + telepon/TV (2P), dan internet + telepon + TV (3P).

NASIB TV KABEL 

Menurut pantauan saya, ada banyak warga membuka usaha jasa TV kabel. Di kecamatan Barong Tongkok dan Melak misalnya. Bahkan usaha itu dilindungi aturan. Warga tidak perlu lagi repot-repot membeli parabola melainkan cukup membayar langganan tiap bulan sudah bisa menonton televisi dengan berbagai channel siaran. Namun, usaha itu kini mulai terancam. Pelanggan jelas memilih pilihan yang lebih banyak. Kini telah hadir layanan Indihome. Lantas bagaimana nasib usaha TV Kabel?

Sementara itu, pelanggan IndiHome dapat menonton lebih dari 100 channel TV favorit, Film, Video, Live Streaming Event secara mobile melalui aplikasi UseeTV GO tanpa biaya tambahan. Pelanggan dapat memiliki akses sepuasnya untuk seluruh konten lokal dan mancanegara baik berupa film, TV lokal maupun mancanegara, pertandingan olahraga favorit, hingga berbagai tayangan live event. UseeTV GO juga dilengkapi dengan fitur TVOD (TV On Demand) yang memungkinkan untuk menonton ulang program TV selama 7 hari ke belakang.

Kemudian, pelanggan HBO (Pelanggan IndiHome yang mempunyai minipack IndiMovie 2) kini bisa mendapatkan akses gratis ke seluruh tayangan film dan serial dari HBO tanpa biaya tambahan. HBO GO adalah layanan mobile (OTT) yang dihadirkan secara eksklusif oleh HBO. Pelanggan dapat memiliki akses sepuasnya untuk seluruh film, dokumenter, komedi dari seluruh episode, bahkan seluruh season serial favorit HBO sampai dengan episode yang terbaru.

ADAKAH JAMINAN?

Saya sebagai warga negara Indonesia merasa sangat bangga. Produk anak bangsa bisa “berkuasa”. Terlebih hadirnya Telkomsel di Kubar yang semakin canggih. Akses dunia maya semakin mudah dan cepat.

Pemerintah pusat pun ambil bagian membangunkan jaringan kabel serat fiber optik dengan cara mengubur kabel berbungkus selang orange di bibir jalan akses. Samarinda-Kubar terbentang sekitar 350 kilometer. Ditambah lagi, 200 kilometer Kubar-Mahulu. Konon membangun jaringan menghabiskan uang rakyat hingga Rp 2 triliun bersumber APBN. Kabel tanam itu terlihat mudah dan murah karena cukup digali atau dibor memakai pipa PVC, membentang dan terbenam dari Samarinda-Kubar-Mahulu.

Migrasi teknologi ini pun sangat strategis. Kabel serat fiber optik jauh lebih maksimal. Kemudian berkecepatan cukup tinggi. Jika selama ini mengandalkan interkoneksi tower atau menara base transceiver station (BTS) melalui gelombang radio. Jika hujan, badai, dan terhalang gunung perbukitan akan mudan sekali jaringan sering terganggu. 

Namun sadarkah kita semua terutama pihak PT Telkom, bahwa kabel yang dibenam itu “aman”? Kasus kabel serat fiber optik tergaruk alat berat sudah kesekian kalinya. Bahkan baru-baru ini, terputus akibat tergilas bor pancang tiang listrik PLN di Kampung Payang, Kecamatan Muara Lawa, Kubar.

Bisa jadi ke depan, terputus akibat tercangkul warga maupun dampak terburuk lainnya. Dipastikan gangguan akan silih bergantian. Akan ada yang kecewa tanpa ada kesudahan. Lantas adakah jaminan bagi pelanggan???

Terhentinya layanan ini banyak keluhan. Bahkan kekecewaan menyeruak di Facebook karena warga sudah ketergantungan dengan jasa internet. Bayar tagihan secara online hingga ke pelaku usaha lainnya bergantung dengan layanan ini.

“Kalau terlambat bayar didenda. Tapi kalau pihak mereka yang gangguan tak ada sanksinya,” keluh salah seorang Facebooker.

Sama meruginya ratusan calon CPNS Kubar jadi korban. Seyogyanya dilaksanakan Kamis (30/9/2021) harus ditunda hingga Senin (4/10/2021). Tidak hanya menambah biaya di hotel. Tapi biaya makan dan transportasi selama tes CPNS yang ditunda. Belum lagi Rapid Test Antigen yang kadaluarsa. Ya harus buat lagi, biaya lagi.

Lantas banyak pihak berharap agar jaringan tertanam di dalam tanah itu selalu dijaga. Antara lain, bagian tanah atas kabel ada tanda patok atau tanda lainnya.

Saya jika boleh menambahkan. Pihak Telkom harus ada upaya, antara lain:

1. Sosialisasi kepada warga yang di depan rumahnya ada kabel tanam serat fiber optik. 

2. Patroli rutin

3. Membuat surat edaran kepada pemerintah dan dinas terkait jika ada pekerjaan kontraktor di akses jalan wajib berhati-hati. Jikapun tetap melanggar harus ada sanksi tegas.

4. Surat edaran kepada kepala kampung sepanjang akses jalan untuk mengingatkan warganya jika ada pekerjaan galian berhati-hati

5. Nah yang terakhir ini pihak PT Telkom ke depan harus membangun lagi jaringan kabel serat fiber optik kedua. Hal ini antisipasi jika ada kasus kabel 1 cut, ada backup kabel kedua. Sehingga jaringan selalu terjaga kualitasnya. Tapi ini mahal bro… tapi ya harus diupayakan.

BISA DIGUGAT

Menyimak Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Layanan konsumen yang tidak memuaskan apalagi mengecewakan bisa digugat. 

Hanya saja upaya penyelesaian Sengketa Konsumen dapat dilakukan melalui beberapa cara. Salah satu cara yang umum dilakukan adalah dengan menempuh jalur peradilan (litigasi). Sebagaimana penyelesaian sengketa secara umum, maka jalur ini memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang relatif lebih banyak.

Sebagai alternatif pilihan penyelesaian sengketa konsumen, maka sejak tahun 2000 secara formal pemerintah melalui Undang-undang Pelindungan Konsumen (UUPK) telah menyediakan jalur penyelesaian sengketa konsumen di luar peradilan (non litigasi).

Penyelesaian sengketa di luar peradilan (non litigasi) ini dapat membantu konsumen dalam menyelesaikan tuntutan kerugiannya dengan biaya yang sangat minim dengan waktu yang dapat diperhitungkan. Ada beberapa lembaga atau badan yang biasanya mampu menyelesaikan sengketa konsumen dengan jalur ini, yaitu:

1) Pemerintah; melalui dinas atau bidang-bidang yang khusus menangani penyelesaian sengketa konsumen, seperti Kementerian Perdagngan RI, Dinas Perdagangan Provinsi, Otoritas Jasa Keuangan dan lainnya.

2) Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM); merupakan lembaga bentukan masyarakat (swadaya) yang khusus menangani perlindungan konsumen yang keberadaannya diakui oleh pemerintah melalui Surat Tanda Daftar Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (TDLPKSM).

3) Badan Pelindungan Konsumen Nasional (BPKN); merupakan lembaga bentukan pemerintah yang anggotanya terdiri dari unsur pemerintah, unsur masyarakat (LPKSM), unsur pelaku usaha, unsur akademisi dan unsur professional/ahli dan berdomisili di Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

4) Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK); merupakan lembaga bentukan pemerintah yang anggotanya terdiri dari unsur pemerintah, unsur masyarakat, dan unsur pelaku usaha dan berdomisili di tiap-tiap kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.

Menurut saya, bahwa keberadaan lembaga-lembaga perlindungan konsumen tersebut sejauh ini dirasakan telah memberi manfaat yang sangat besar kepada masyarakat/konsumen. Meskipun secara ideal, baik LPKSM maupun BPSK seharusnya ada dan terbentuk di setiap kabupaten/kota sebagaimana yang diamanatkan dalam UUPK.

Selain bertugas mengedukasi masyarakat tentang hak-hak konsumen, kedua lembaga tersebut (LPKSM dan BPSK) juga seringkali menangani pengaduan dan membantu menyelesaikan sengketa konsumen. Beberapa kasus sengketa yang biasa ditangani antara lain: Leasing, Perbankan, Perumahan, Penerbangan, Air Bersih, PLN, Barang Elektronik dan sebagainya.

Semoga bermanfaat.

Oleh: Rudy Suhartono

Penulis adalah Petinggi Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu

Bagikan ke
  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: