Stunting Kaltim Masih Tinggi, DPRD Desak Audit Menyeluruh Program Kesehatan Daerah

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra.

SAMARINDA, Infokubar.id Prevalensi stunting di Kalimantan Timur pada 2024 masih berada di atas rata-rata nasional. Berdasarkan data terbaru, angka stunting tercatat sebesar 22,2 persen, hanya turun 0,6 persen dibandingkan 2021 yang berada di level 22,8 persen. Kondisi ini dinilai menunjukkan stagnasi penanganan stunting di daerah.

Situasi tersebut mendapat sorotan serius dari DPRD Kaltim. Lembaga legislatif mendorong Pemerintah Provinsi Kaltim melakukan evaluasi dan audit total terhadap program kesehatan, khususnya di daerah-daerah dengan angka stunting tertinggi, guna mengidentifikasi hambatan di lapangan.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra, mengungkapkan bahwa empat daerah yang masih mencatat prevalensi stunting tinggi adalah Kabupaten Kutai Timur, Penajam Paser Utara (PPU), Kutai Barat, dan Kota Balikpapan.

“Kami di Komisi IV DPRD Kaltim sangat prihatin dan memberikan perhatian serius terhadap meningkatnya kasus stunting ini,” ujar Andi, Minggu (7/12/2025).

Ia menilai, lambannya penurunan angka stunting menjadi sinyal kedaruratan yang harus segera ditangani secara komprehensif agar target penurunan signifikan pada 2027 dapat tercapai.

“Kami meminta perangkat daerah terkait, khususnya Dinas Kesehatan, untuk melakukan audit menyeluruh terhadap pelaksanaan program di daerah yang menunjukkan kenaikan angka stunting,” tuturnya.

Menurut Andi, audit tersebut penting untuk memastikan titik persoalan yang sebenarnya di lapangan, baik dari sisi pendataan, distribusi intervensi gizi, maupun koordinasi antar pemangku kepentingan.

“Perlu diidentifikasi secara jelas apakah persoalannya terletak pada pendataan, penyaluran intervensi gizi, atau koordinasi di lapangan,” tambahnya.

Ia juga menilai keberhasilan Kabupaten Kutai Kartanegara dalam menekan angka stunting dapat dijadikan rujukan bagi daerah lain di Kaltim. Kukar tercatat mampu menurunkan prevalensi stunting hingga 14,2 persen, jauh di bawah rata-rata nasional 19,8 persen.

Sebelumnya, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kaltim merilis data prevalensi stunting 2024. Selain Kutai Kartanegara, dua daerah lain yang berhasil menekan angka stunting di bawah rata-rata provinsi adalah Kota Samarinda sebesar 20,3 persen dan Kota Bontang 20,7 persen.

Sementara itu, empat daerah lainnya masih berada pada kategori mengkhawatirkan, yakni Kabupaten Kutai Timur dengan prevalensi 26,9 persen, Kutai Barat 27,6 persen, Kota Balikpapan 24,7 persen, serta Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang mencatat angka tertinggi mencapai 32 persen. (Adv/DPRD Kaltim)

Facebook Comments Box
Matahari Komputer
Bagikan ke